Langsung ke konten utama

Peran Air Putih Bagi Kekebalan Tubuh

Tubuh manusia terdiri dari sekitar 70% cairan, yang perannya sangat penting bagi tubuh. Dengan demikian, mengonsumsi air putih yang cukup (sesuai perhitungan berat badan) setiap harinya, mampu menjaga kestabilan peran metabolisme tubuh.

Kurangnya mengonsumsi air putih menyebabkan darah mengental, dan aliran darah menjadi tidak lancar sebagaimana mestinya. Resikonya dapat imbas ke mana-mana, terutama bagi sistem sirkulasi dalam tubuh. Sirkulasi yang terganggu menyebabkan tubuh tidak maksimal dalam pembersihan.



Nah, konon lagi perubahan cuaca saat ini, di tengah 'pandemi', belum lagi jika asupan air putih tidak cukup terpenuhi, jelas tentu berpengaruh bagi sistem kekebalan tubuh. Tubuh yang kekurangan cairan, sistem di dalamnya jadi terganggu, efeknya kita menjadi lemas dan mudah sakit.
Ginjal adalah yang paling membutuhkan kecukupan air, untuk memproses pembersihan tubuh setiap hari, racun dari aliran darah dikeluarkan bersama urin.

Usus yang cukup air akan melancarkan sistem pencernaan. Pencernaan yang lancar menjadikan asupan gizi dari makanan mampu diserap tubuh dengan baik, sehingga sistem kekebalan tubuh lebih berdaya dan mempengaruhi seluruh kerja organ tubuh, terutama otak agar tidak gampang stres, stres rentan memicu sakit.

Sampai di sini mari coba dihitung, lebih banyak mana kita mengonsumsi air putih atau air yang sudah bercampur dengan zat tambahan? [RAn]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

8 Irama Bacaan Al-Qur’an

doc.animasipro | Rahma An *galeri Membaca Al-Qur’an dengan irama atau suara yang merdu dikenal dengan tilawah Al-Qur’an. Tilawah sudah dikenal sejak lama, yaitu membaguskan intonasi bacaan Alquran dengan menyertakan hati yang khusyuk. Membaca Alquran dengan indah akan lebih mudah dalam mendalami maknanya. Banyak pendapat ulama bahwasanya tilawah bukan sekadar membacanya dengan tartil, akan tetapi juga harus sesuai tajwid, makhraj, dan menyesuaikan dengan hukum bacaan. Tilawah adalah amalan yang dianjurkan, karena Allah menyukai orang yang membaguskan bacaan Qur’an-nya. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam pernah lewat ketika Abu Musa sedang membaca Al-Qur’an, Nabi berhenti untuk mendengarkan bacaan sahabatnya tersebut. Kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh ia (Abu Musa) telah diberi keindahan suara sebagaimana keindahan suara keturunan Nabi Daud.” (HR Bukhari, Muslim) Seni suara dalam membaca Al-Qur’an telah turun-temu...

BERSEMADI 20 Hari : Belajar dari Semut

Berawal dari salah seorang anggota di grup komunitas, yang membagikan informasi tentang adanya program BERSEMADI (BERkarya SElama raMAdan di blog pribaDI) oleh FLP Surabaya. Sembari melakukan aktivitas lain sebagai seorang istri, selama di rumah saja, dan ada beberapa program lainnya juga melalui daring. Saya ikut berpartisipasi dalam agenda BERSEMADI, setidaknya sambil rutin mengisi blog dan berbagi tulisan baik. Sebelumnya melalui proses pendaftaran dan sejenak melakukan diskusi, sebagai syarat keberlanjutan dan kelancaran program, bersama panitia. Menulis dengan tema yang ditentukan dan sama setiap harinya, harus disetor dengan batas waktu, selama dua puluh hari berturut-turut tidaklah mudah. Jauh lebih mudah ketika menulis dengan tema yang bebas dan tidak terikat, karena topik pembahasan yang sama selama hampir sebulan itu akan membuat pusing di antara kesibukan lainnya. Namun, semangat dan antusias teman-teman yang mengikuti adalah cambuk bagi kita semua untuk menuntas...

Jenazah Positif COVID-19 Najiskah?

Tagar di rumah saja menjadi populer di berbagai penjuru media sosial saat ini, di tengah-tengah masih pro-kontranya masyarakat yang berusaha waspada atau yang terlalu santai. Covid-19 tak bisa dianggap angin lalu, wabah ini makin ke sini kian serius. Namun, bagaimana sikap terhadap pasien yang dinyatakan positif Corona ini? Ada beberapa komentar yang bergeming, bahwa penanganan pasien positif dianggap terlalu melebih-lebihkan seolah pasien tersebut najis. Jumlah penderita terinfeksi Virus Corona makin bertambah, ada yang berhasil sembuh dan bahkan meninggal dunia. Pihak medis Indonesia yang belum sempurna siap, baik dari segi alat maupun fasilitas yang ada, mengerahkan segala kemampuan mereka mempertaruhkan nyawa bahkan, sebagai garda terdepan. Tugas masyarakat adalah membantu mereka dengan ikut andil menghindari keramaian sebagaimana wacana dari pemerintah setempat, kecuali sangat perlu untuk ke luar (dengan kehati-hatian). Namun, masihkah ada yang belum mengetahui jelasnya ten...