Langsung ke konten utama

Historis Kupiah Aceh dan Utoh

Kopiah (kupiah) Aceh merupakan penyempurna pakaian dalam memperjelas ciri khas laki-laki di Aceh. Berupa peci yang dipakai di kepala, yang umumnya dominan berwarna hitam atau putih.

Kopiah Aceh tercipta dari tangan-tangan masyarakat lokal (Aceh) oleh pengrajin (Utoh) yang terampil, turun-temurun diproduksi sejak masyarakat Aceh yang memang pada awalnya sudah mengenal perniagaan dan Islam, yang merupakan salahsatu wilayah kesultanan mahsyur, dikenal sebagai Serambi (Seuramoe) Mekah.



Islam sudah sejak lama menjadi panduan orang Aceh dalam melahirkan kebiasaan dalam bentuk apapun, termasuk adat istiadat setempat. Penutup kepala memang disunahkan dalam Islam. 

Bagi laki-laki di Aceh kopiah tidak hanya dipakai dalam beribadat salat, namun juga dalam  kehidupan sehari-hari. Mayoritas Teungku dan Santri dayah (pesantren/sekolah agama) memang tidak terlepas dari penggunaan kopiah. Pemangku adat dan masyarakat biasa pun memakai tanpa membedakan silsilah, kedudukan, digunakan pada acara sakral seperti pernikahan dan lain sebagainya, kecuali pengantin, pengantin laki-laki ada kopiah khusus (Kupiah Meukeutop).

Ciri khas kopiah Aceh dilihat dari motifnya, setiap motif mengandung filosofi tersendiri. Kain yang digunakan biasanya dari bahan beludu hitam yang berkualitas dan nyaman dipakai serta ringan. Ukuran bervariasi sesuai bentuk kepala orang Aceh dan orang Melayu Indonesia pada umumnya. Menyoal harga juga beragam disesuaikan dengan modal dan hasil produksi.



Pengerjaan kopiah Aceh pertahap demi tahap; dari penjahitan lapisan dalam, bordiran motif, sampai kepada penggabungan menjadi satu kesatuan utuh kopiah itu sendiri. Dikerjakan oleh masing-masing pengrajin (Utoh) berbeda pada setiap tahap proses pengerjaannya.

Motif yang dipakai disesuaikan dengan minat konsumen. Biasanya cenderung memakai Motif Pintu (Pinto) Aceh dan Motif Sulur Daun. Sehingga tanpa dipungkiri bahwasanya Kupiah Aceh ini mampu menjaga identitas Suku Aceh itu sendiri.

Industri kopiah Aceh pun dapat saling dimanfaatkan oleh produsen dan konsumen sampai waktu yang lama, sebab produk kopiah Aceh tidak tergerus zaman seperti halnya produk pakaian pada umumnya, yang sering berganti menyesuaikan dari tahun demi tahun. 

 Namun, sangat dikhawatirkan industri ini akan hilang, jika pengrajin mulai berkurang, ekonomi yang lebih layak menjadi pemicunya, karena pengrajin (Utoh) ini berhak memilih pekerjaan yang lebih mampu memberdayakan kesejahteraan keluarganya.

****
(Rahmawati Anwar, S.Pd Tata Busana)



#Pendidikan
#KebudayaanDaerah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

8 Irama Bacaan Al-Qur’an

doc.animasipro | Rahma An *galeri Membaca Al-Qur’an dengan irama atau suara yang merdu dikenal dengan tilawah Al-Qur’an. Tilawah sudah dikenal sejak lama, yaitu membaguskan intonasi bacaan Alquran dengan menyertakan hati yang khusyuk. Membaca Alquran dengan indah akan lebih mudah dalam mendalami maknanya. Banyak pendapat ulama bahwasanya tilawah bukan sekadar membacanya dengan tartil, akan tetapi juga harus sesuai tajwid, makhraj, dan menyesuaikan dengan hukum bacaan. Tilawah adalah amalan yang dianjurkan, karena Allah menyukai orang yang membaguskan bacaan Qur’an-nya. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam pernah lewat ketika Abu Musa sedang membaca Al-Qur’an, Nabi berhenti untuk mendengarkan bacaan sahabatnya tersebut. Kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh ia (Abu Musa) telah diberi keindahan suara sebagaimana keindahan suara keturunan Nabi Daud.” (HR Bukhari, Muslim) Seni suara dalam membaca Al-Qur’an telah turun-temu...

BERSEMADI 20 Hari : Belajar dari Semut

Berawal dari salah seorang anggota di grup komunitas, yang membagikan informasi tentang adanya program BERSEMADI (BERkarya SElama raMAdan di blog pribaDI) oleh FLP Surabaya. Sembari melakukan aktivitas lain sebagai seorang istri, selama di rumah saja, dan ada beberapa program lainnya juga melalui daring. Saya ikut berpartisipasi dalam agenda BERSEMADI, setidaknya sambil rutin mengisi blog dan berbagi tulisan baik. Sebelumnya melalui proses pendaftaran dan sejenak melakukan diskusi, sebagai syarat keberlanjutan dan kelancaran program, bersama panitia. Menulis dengan tema yang ditentukan dan sama setiap harinya, harus disetor dengan batas waktu, selama dua puluh hari berturut-turut tidaklah mudah. Jauh lebih mudah ketika menulis dengan tema yang bebas dan tidak terikat, karena topik pembahasan yang sama selama hampir sebulan itu akan membuat pusing di antara kesibukan lainnya. Namun, semangat dan antusias teman-teman yang mengikuti adalah cambuk bagi kita semua untuk menuntas...

Jenazah Positif COVID-19 Najiskah?

Tagar di rumah saja menjadi populer di berbagai penjuru media sosial saat ini, di tengah-tengah masih pro-kontranya masyarakat yang berusaha waspada atau yang terlalu santai. Covid-19 tak bisa dianggap angin lalu, wabah ini makin ke sini kian serius. Namun, bagaimana sikap terhadap pasien yang dinyatakan positif Corona ini? Ada beberapa komentar yang bergeming, bahwa penanganan pasien positif dianggap terlalu melebih-lebihkan seolah pasien tersebut najis. Jumlah penderita terinfeksi Virus Corona makin bertambah, ada yang berhasil sembuh dan bahkan meninggal dunia. Pihak medis Indonesia yang belum sempurna siap, baik dari segi alat maupun fasilitas yang ada, mengerahkan segala kemampuan mereka mempertaruhkan nyawa bahkan, sebagai garda terdepan. Tugas masyarakat adalah membantu mereka dengan ikut andil menghindari keramaian sebagaimana wacana dari pemerintah setempat, kecuali sangat perlu untuk ke luar (dengan kehati-hatian). Namun, masihkah ada yang belum mengetahui jelasnya ten...